Destinasi Surgawi

Dari biara setinggi awan hingga kuil Shaolin, Andri Sharief menulis kurasi wisata ke destinasi berdaya tarik spiritual.

METEORA, YUNANI

Surga Dunia

Jauh dari kemeriahan pesta di pulau Santorini, wisatawan yang berkunjung ke Yunani juga punya pilihan lain: menyaksikan pemandangan spektakuler “hutan batu raksasa” di Meteora. Destinasi yang bertengger sekitar 400 meter dari atas tanah ini tidak hanya jauh dari pinggiran pantai, tapi juga menjauh dari hiruk pikuk pesta.

Meteora yang secara bahasa bermakna “menggelayut di udara” atau juga diartikan “Surga di atas” adalah biara bagi puluhan penghuninya yang tinggal di atas sana. Meski tidak sepopuler Santorini atau destinasi lain di Yunani, Meteora memilik reputasi tersendiri yang tidak hanya menarik minat wisatawan relijius, tapi juga bagi mereka yang menyukai daya tarik alam.

Meteora, Surga di ‘Tengah Langit’ Yunani – courtesy of travelingyuk.com

Konon Meteora awalnya dihuni para pendeta-penyendiri pada sekitar abad ke-9. Komunitas kecil ini kemudian berkembang sampai ke abad ke-13 dimana mereka mulai membentuk biara-biara kecil di atas bebatuan raksasa.

Pada abad ke-14, di masa invasi bangsa Turki, sejumlah biarawan lain berada dalam pelarian dan mencari tempat mengungsi. Mereka menemukan puncak-puncak bebatuan di Meteora sebagai lokasi yang tepat. Bukan hanya untuk menghindar dari serbuan Turki, tapi juga demi menarik jarak dari kegaduhan duniawi di bawah sana.

Di puncak-puncak bebatuan itu mereka seolah tinggal dekat dengan langit dimana mereka bisa khidmat mendekatkan diri kepada Tuhan. Sepanjang abad ke-14, lebih dari 20 biara dibangun anggun disana. Enam diantaranya masih tersisa sampai hari ini.

Di masa sekarang Meteora resmi tercatat dalam UNESCO World Heritage Site dan lebih diakui sebagai warisan budaya dunia dibanding tempat ibadah suatu agama saja. Meteora pernah menjadi lokasi syuting film James Bond “Four Your Eyes Only” (1981) dan Game of Thrones (2014) yang berhasil memperkenalkan destinasi ini ke pentas dunia. Bukan semata destinasi relijius, tapi juga sebuah situs yang bisa mendebarkan hati setiap manusia.

KONYA, TURKI

Rumah Rumi

Esensi Turki tidak tersimpan di Istanbul. Apa yang identik dengan Turki tidak benar-benar berasal dari Istanbul. Tarian Sufi, karpet Cappadocia, kaligrafi dari periode medieval, dan legenda Alladin bukan berasal dari kota terbesar di Turki itu.

Mausoleum Rumi – courtesy of cheria-travel.com

Esensi Turki ada di Konya. Sebuah kota metropolitan yang paling konservatif di Turki dimana masjid-masjid agungnya terbuka bagi wisatawan. Meski berjuluk “Benteng Islam”, kota ini tidak bermaksud untuk menutup diri dari kebudayaan dan kepercayaan lain di luar dirinya.

Tidak seperti di Istanbul dimana minuman keras dan tarian seksi Timur Tengah juga marak dirayakan berdampingan  dengan budaya Islaminya, di Konya kemeriahan duniawi jelas ada batasnya. Disini minuman keras dilarang dan aturan Islam benar-benar diperhatikan.

Tapi jangan terlalu cepat mengartikan Konya sebagai kota yang anti-plural. Di balik ketaatan yang terpancar dari arsitektur masjid-masjidnya yang megah, dari gadis-gadisnya yang berjilbab dan dari para peramal berjanggut, Konya menyimpan sebuah kisah cinta pada pluralitas manusia.

Kisah itu tersimpan rapi di Mevlana Museum, dan bersumber pada sebuah makam di dalam museum itu yang memancarkan sinar kasih sayang: makam sang Mevlana, atau yang di Indonesia lebih populer dengan nama Jalaludin Rumi, salah satu penyair dunia yang karyanya paling banyak dibaca. Seperti yang kita kenal, selain penyair, Rumi adalah seorang filsuf dan pelopor Sufi –sebuah aliran kepercayaan Islam-esoteris yang bisa mencintai semua agama, dan mendasari kepercayaannya pada kekuatan universalitas cinta.

Museum Rumi adalah destinasi kedua yang paling dikunjungi wisatawan di Turki setelah Istana Top Kafi di Istanbul. Sekitar lebih dari 2 juta wisatawan berkunjung ke Konya setiap tahunnya, termasuk mereka yang rutin mengunjungi makam Rumi sebagai kegiatan ibadah.

Daripada sekadar berkunjung ke Konya hanya dengan menggunakan tur wisata yang terjadwal, ada baiknya menikmati kota ini dengan cara sendiri. Masuk ke dalam keseharian warganya, menikmati arsitektur Seljuk yang indah, makan hidangan daging dombanya yang lezat, dan mungkin jatuh cinta pada Rumi.

GLASTONBURY TOR, INGGRIS

Bukit Ajaib

Selain lokasi untuk pesta musik Glastonbury Festival, kota kecil Glastonbury di Somerset, bagian Barat Daya Inggris adalah juga rumah bagi Glastonbury Tor. Menara unik yang menjulang tak beratap ini adalah reruntuhan sebuah gereja yang dibangun di abad ke-14. Namun banyak riwayat mengaitkannya ke jauh sebelum masuknya budaya Kristiani di tanah Inggris, yaitu di masa hidup kepercayaan Celtic dan Pagan, diiringi sejumlah mitos supranatural yang mewarisinya.

Glastonbury Tor terletak di puncak sebuah bukit yang secara geologis terbentuk sejak zaman pra sejarah. Undakannya berlapis-lapis nyaris simetris, membuat bukit ini tampak unik sehingga kerap dihubungkan dengan teori fenomena alam dan dikombinasi dengan kisah-kisah supranatural.

Glastonbury Tor – courtesy of pxhere.com

Bukit kecil ini sering disebut sebagai ‘Bukit Ajaib’, dimana ‘kekuatan alam bergabung dengan kekuatan-kekuatan murni yang tak terlihat’. Glastonbury Tor bisa sangat terlihat dari kejauhan, namun kadang bisa sulit terlihat melalui beberapa sudut pandang ketika orang sedang mendekatinya.

Landmark ini juga kerap dikaitkan dengan kisah Raja Arthur yang menyelamatkan Ratu Guinevera yang pernah diculik dan disekap di atas bukit itu. Banyak yang percaya bahwa lokasi ini dulunya adalah tempat inisiasi penganut agama lama. Ada yang mengasosiasikan tempat ini sebagai lokasi pemakaman, dan ada pula yang berkeyakinan di dalam bukit inilah tersimpan The Holy GrailI yang disucikan umat Kristiani itu.

Di tahun 1970 koran setempat pernah melaporkan pernyataan seorang polisi yang mengaku melihat 8 benda asing berbentuk seperti telur sedang terbang berputar mengitari atas menara. Banyak pula dilaporkan pengalaman aneh wisatawan yang berkunjung kesana. Diantaranya adalah yang terasa secara fisik dimana wisatawan tiba-tiba seperti terloncat dengan sendirinya, merasakan tubuh mereka menjadi ringan seperti tidak memiliki beban, dan pengalaman disorientasi seperti berada di dalam sebuah labirin bawah tanah.

SONG SHAN, CHINA

Pesona Tao

Jika tidak berlebihan, dari wilayah inilah budaya spiritual China berasal. Bertengger 1500 meter di atas ketinggian laut, Song Shan adalah gunung penting dalam sejarah China. Gunung ini merupakan pusat dari Lima Gunung Agung yang terletak di wilayah Dengfeng, propinsi Henan yang amat disakralkan oleh penganut ajaran Tao. Lokasi ini memiliki reputasi sebagai “kuil nomor satu di bawah surga” dimana sejumlah pencerahan spiritual terjadi disini yang menjadi cikal-bakal agama-agama berpengaruh sampai saat ini.

Mount Song – courtesy of chinadiscovery.com

Di wilayah sakral ini terdapat Shaolin Temple, yang secara tradisional dianggap sebagai tempat lahirnya Zen Buddhism. Selain sekolah Zen, dari sini pula lahir seni bela diri Kung Fu yang mendunia itu. Film Hollywood telah mendominasi pencitraan Shaolin Temple lebih sebagai sangkar ilmu bela diri ketimbang sebuah kuil sakral yang dimulai dari semangat pencarian spiritual.

Para praktisi Tao, Buddha dan Konfusius sejak dulu memilih tempat ini sebagai pusat pengajaran mereka. Hingga kini, ketiga kepercayaan besar itu masih terus berinteraksi di wilayah ini dan mengembangkan pemahaman baru agar sistem kepercayaan mereka dapat berjalan harmonis.

Disini wisatawan dapat masuk ke dalam Gua Dharma, tempat dimana Sang Dharma duduk bertapa menghadap dinding gua selama 9 tahun sampai akhirnya dia mencapai tingkatan spiritual tertingginya yang melandasi ajaran Zen.

Ada banyak gua, lembah, kolam, dan air terjun di pegunungan yang menjadi rumah bagi 9 dinasti besar di China ini. Para Emperor sejak dulunya menjadikan tempat ini sebagai lokasi upacara-upacara persembahan bagi para leluhur dan menjadi tempat inisiasi bagi raja-raja baru.

Doa-doa para pendeta dan aroma dupa menjadi bagian yang akrab menyambut wisatawan disini. Tersedia pula kelas-kelas belajar Kung Fu dan Wu Shu bagi mereka yang tertarik membawa pulang oleh-oleh berupa gerakan-gerakan ilmu bela diri dari ribuan tahun lalu itu.