Semarang, Dulu Sampai Sekarang

Jelajahi Semarang seperti seorang penduduk lokal. Hangout di kafe kekinian dalam bangunan historis, belanja di pasar antik, dan berwisata di wilayah pegunungan dengan pemandangan yang mendebarkan.  

Kota Semarang masuk dalam daftar 5 besar untuk kategori “metropolitan” di Indonesia. Kota yang jatuh ke tangan Belanda sejak 1705 ini punya aksen kolonial yang kental, tapi perkembangan modernnya juga tak kalah mencolok. Gedung-gedung  baru dan bangunan pencakar langit kini telah menjunjung tinggi. Masyarakatnya yang multi etnis terkoneksi dengan baik ke internet, membuat kota ini menjadi kota di Jawa Tengah yang memiliki pengguna internet terbanyak. Di tengah kemampuannya mengadaptasi zaman, Semarang masih bersinar dengan daya tarik tradisinya.

Memoria Masa Belanda

Lawang Sewu – courtesy of asiawisata

Di mana pun kita berdiri, bangunan bersejarah mengelilingi kita di tengah kota. Lawang Sewu merupakan salah satu yang paling populer, sebuah gedung bekas perusahaan kereta milik Belanda. Sayangnya gedung ini sekarang terlanjur dikenal dengan nuansa mistisnya, yang membuat pemerintah setempat sedang berjuang keras untuk mengubah pencitraan itu. Bangunan kolonial Semarang berpusat di seputaran area Tanjung Mas, di sini di antaranya berdiri bangunan bekas pabrik rokok kretek terbesar. Di area ini juga terdapat pasar barang antik yang menjual memorabilia, seperti senjata zaman Belanda atau saxophone yang sudah tak terlacak siapa pemilik aslinya.

Spiegel Bar & Bistro

Spiegel Bistro – courtesy of Myfunfoodiary

Masih di seputaran kota lama, daya tarik lainnya adalah Gedung Spiegel, bangunan yang telah berdiri sejak 1895 sebagai sebuah toko serba ada. Gedung ini selama bertahun-tahun tampak rongsok dan dijadikan sebagai gudang. Di tahun 2015, seorang arsitek muda mengubahnya menjadi sebuah tempat hangout yang namanya kini nyaris identik dengan nama bangunan itu sendiri: SPIEGEL. Tidak perlu waktu lama setelah dibuka, Spiegel Bar & Bistro ini langsung mendapat tempat di peta wisata Semarang. Beritanya tersebar secara viral di medsos dan media massa sebagai sebuah renovasi inovatif terhadap bangunan bersejarah. Di sini tersedia berbagai macam sajian Eropa masa kini, juga wine dan spirit.

Kampung Pelangi

Semula kampung ini bernama  Kampung Gunung Brintik, sebuah kampung kumuh yang masyarakatnya hidup di bawah garis ekonomi rata-rata. Namun sejak kampung ini dicat warna warni April lalu, jadilah namanya dikenal sebagai “Kampung Pelangi”. Orang-orang berdatangan untuk berfoto, kemudian diunggah di media sosial. Popularitasnya dengan cepat beredar secara viral, sampai-sampai kampung ini tidak hanya dikenal di Semarang dan sekitarnya saja, tapi juga diulas di media mainstream luar negeri seperti  The Independent, Vogue dan CNBC. Proyek senilai 3 milyar ini mulai memberi manfaat pada perekonomian sekitar, khususnya bagi taraf hidup warga Kampung Pelangi.

Wisata Bandungan

Candi Gedong Songo – courtesy of wisataterindah

Agak menanjak ke wilayah pegunungan, tepatnya ke lereng Gunung Ungaran, bisa dinikmati belasan titik wisata sekaligus. Di sini terdapat Candi Gedong Songo dan Air Terjun Tujuh Bidadari, dua situs historis yang melegenda di sana. Tapi Bandungan juga punya situs modern yang jadi daya tarik baru, di antaranya Susan Spa & Resort, sebuah fasilitas akomodasi yang menjadi landmark baru di sana. Fasilitas karaoke juga mulai menjamur di sana untuk yang suka hiburan malam. Lokasi yang paling banyak dikunjungi anak-anak muda adalah Camp Mawar, sebuah wilayah perkemahan dengan tenda-tenda sewaan dan pemandangan kerlap-kerlip Kota Semarang di kejauhan.

Kampung Batik Semarang

Batik khas Semarang kadang disebut “batik Semarangan”. Jenis batik ini paling mudah didapat di Kampung Batik Semarang yang letaknya tidak jauh dari Kota Lama. Kampung batik ini telah lama ada, konon sejak tahun 40-an, kemudian sempat terbakar. Di tahun 70-an kampung ini dihidupkan lagi, tapi baru beberapa tahun terakhir ini Kampung Batik Semarang menggeliat kembali ke permukaan. Kampung ini diwarnai dengan ragam corak batik di tembok-tembok jalannya. Selain berfoto, wisatawan bisa belanja batik murah, karena dibeli langsung dari produsennya. Selain belanja, beberapa produsen disana juga “membuka kelas” bagi wisatawan yang tertarik untuk belajar bikin batik dari awal.

LOCAL COLOURS

STREET FOOD

Pasar Semawis

Ini merupakan pasar malam yang buka setiap weekend, menyajikan ragam makanan Nusantara, Eropa dan Oriental. Hampir semua makanan khas Semarang tentunya ada disini, dari lumpia, babat gongso, sego gandhul, dan tahu gimbal.

PUBLIC SPACE

Simpang Lima

Alun-alun kota Semarang dikenal dengan nama Simpang Lima. Area ini lebih hidup di malam hari, dengan deretan restoran di sekitar area, pusat perbelanjaan dan hotel-hotel bintang lima. Cocok untuk wisatawan yang ingin melihat langsung lifestyle warga setempat.

Originally published in Majalah Mutiara Biru (Oktober 2017)