Santos Thenu: Saatnya Ritel Modern Asli Indonesia Bangkit

Penulis: Achmad Dzulfiqar

Artikel ini diambil dari sini

Santos

Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2017 sebagian besar akan ditopang oleh sektor konsumsi rumah tangga seperti tahun-tahun sebelumnya. Bahkan pada tahun ini konsumsi rumah tangga diperkirakan akan mencapai 60-70 % ekonomi Indonesia. Terlebih kondisi perekonomian global belum menunjukkan tren positif untuk mendukung aktifitas perdagangan luar negeri. Ekspor dan impor masih negatif.

Konsumsi rumah tangga memang selalu menjadi andalan pemerintah dan otoritas keuangan untuk memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Peran industri ritel sangat strategis, berada di garda depan dalam pemenuhan konsumsi rumah tangga. Lantas, bagaimana prospek industri ritel Tanah Air ke depan dan tantangan yang dihadapi dalam pengembangannya?.

Untuk menjawab pertanyaan ini dari persfektif pelaku bisnis ritel, Achmad Dzulfikar dari SenayanPost.com mewawancarai Santos Thenu, Business Development Director Lotte Mart Indonesia di Jakarta, Senin (16/1/2017). Berikut petikannya:

Bagaimana prospek industri ritel Tanah Air satu dekade mendatang? Bisa digambarkan potensi pasarnya?

Pertanyaan yang menarik. Bicara prospek industri ritel, kita harus mengacu data dari lembaga riset independen. Biasanya yang kerap dipakai oleh pelaku bisnis adalah McKinsey Global Institute Report. September 2012, McKinsey mengumumkan hasil risetnya yang menarik tentang Indonesia. Disebutkan bahwa pada 2030 Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi nomor 7 terbesar di dunia. McKinsey lebih moderat dibandingkan Standard Chartered. Standchart malah lebih optimis lagi, memprediksi ekonomi Indonesia berada dalam posisi 5 besar dunia. McKinsey merinci bahwa pengeluaran tahunan terbesar masyarakat Indonesia pada 2030 mendatang, nomor satu adalah saving & investment sebesar 565 miliar dolar. Berikutnya nomor dua food & beverage sebesar 194 miliar dolar, dan nomor tiga leisure sebesar 105 miliar dolar.

Jadi, kalau disimpulkan, makanan dan minuman plus hiburan di waktu luang menjadi sumber pengeluaran terbesar masyarakat Indonesia. Memang kenyataannya makan bukan lagi sekadar kebutuhan, tapi sudah menjadi gaya hidup masyarakat kita. Orang beli rumah mungkin sekali seumur hidup. Beli baju juga belum tentu sekali sebulan. Tapi kalau makan dan minum, setiap hari. Bahkan sehari bisa beberapa kali. Kita mau meeting dan hangout saja biasanya makan dan minum. Fenomena ini sudah terjadi di masyarakat kita sejak sekitar 1990-an, di mana waktu itu ada revolusi F&B di Indonesia, banyak resto luar negeri masuk ke negeri kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *