Melihat Peluang Lewat Content Writing dan SEO

Text: Ruth Ninajanty 

Menjadi seorang content writer bukanlah tujuan akhir, tapi awal perjalanan menulis kita.

Kira-kira begitulah kesimpulan yang saya dapat dari workshop bersama CNI dan Komunitas Indonesia Social Blogger (ISB) kemarin di Burger King Pasar Festival. Workshop ini merupakan seri ke-2 dan sayangnya saya tidak ikut sesi pertamanya. Untungnya ada beberapa juga yang baru hadir di sesi ini dan Teh Ani Berta selaku pembicara bersedia mengulang sedikit presentasi awalnya. Beginilah kisah content writer wannabe di satu Minggu sore yang mendadak jadi jauh lebih berfaedah.

“Content writer ini bukan untuk blogging,” begitu penekanan Teh Ani di awal presentasinya. Soalnya, meskipun sama-sama menulis, content writer dan blogger itu berbeda. Sebagai blogger, kita punya blog, nulis buat diri sendiri dan senang-senang sendiri. Sementara content writer mengisi website orang, perusahaan atau institusi lain seperti misalnya Brilio, Citizen6, Vivalog dan Kompasiana. Kalau kita suka baca website dan ada tulisan mengajak kita untuk sumbang artikel dan mengisi di web mereka, itu adalah ajakan jadi content writer. Dibayar? Tidak selalu sih. Tapi sebagai content writer yang kita cari kan sebenarnya portfolio.

Portfolio ini penting. Waktu Dudu masih sering casting dan fashion show, dia juga punya portfolio. Pernah jadi model di show, iklan dan pemotretan apa saja. Semuanya dicantumkan jadi satu portolio. Begitu juga dengan tulisan kita. Pernah dimuat di mana, tayang di mana dan mungkin menang lomba apa juga bisa jadi portfolio. Pokoknya yang namanya pekerja kreatif haruslah punya portfolio ini. Saya sebenarnya menyimpan hasil tulisan saya di satu portfolio online di wordpress yang tidak pernah diupdate itu. Ups.

Jadi content writer itu tidak gampang. Ada banyak dos and don’ts serta tricknya. Sebagian kita pasti tahu karena sebagai blogger, kita juga dituntut untuk melakukan hal yang sama. Misalnya copy paste dan plagiarisme. Di blogging kan juga tidak boleh. Lalu tentang research dan tulisan reportase yang pakai 5W 1H itu. Minimal kata juga sebenarnya kurang lebih sama. Tulisan minimal 500 kata, maksimal 1000 kata karena kalau sudah lewat 1000 biasanya mata juga lelah bacanya.

Lalu apa yang beda dong? Pembedanya adalah (1) opini dan perasaan baper pribadi tidak boleh diikutkan di tulisan kita sebagai seorang content writer karena kita menulis untuk website orang. Tidak mungkin dong, misalnya, kita menulis tentang satu partai politik dan tiba-tiba muncul idealisme ideologi kita yang sebenarnya bertentangan dengan si partai politik di artikel yang sama. Jadi, kalau sedang pakai topi “content writer”, dilepas dululah segala macam perasaan pribadi ini. (2) Gaya penulisan yang sesuai dengan klien. Kita menulis buat web yang kekinian dengan target pembaca kids jaman now, pasti hasilnya berbeda dengan tulisan di blog pribadi yang target pembacanya emak-emak. Ini sejujurnya susah, terutama jika kita mengisi website baru yang belum ada contoh artikelnya (cuma ada arahan klien) atau beberapa website mirip-mirip yang “gaya bicaranya” sama karena target pembacanya juga ya, sapa lagi kalau bukan “anak muda tech-savvy usia 17-25 yang mengandalkan internet sebagai sumber informasinya”.

(3) Editing. Do you edit your blogpost? 
Yes, susah buat kita mengacak-acak tulisan kita sendiri, yang nulisnya aja pakai semedi ngusir writer’s block dulu. Tapi setidaknya kita bisa meniadakan typo dan mengganti kata yang digunakan berulang kali dalam satu paragraf yang sama. Kan jadi lebih enak dibaca. “Tidak semua web menyediakan editor untuk content writernya,” begitu kata Teh Ani. Nah, kalo tulisan kita yang tidak diedit itu sampai tayang, kan kita sendiri yang malu. Kalau sudah begitu, berani pasang sebagai portfolio?

Peserta Gathering CNI (photo pinjam dari Mas Ono Sembunglango)

Tulisan ini sudah lewat 500 kata dan saya belum menyinggung soal SEO yang dibawakan oleh Mas Nico Riansyah, Digital Marketing Specialist dari CNI. Padahal optimisasi itu penting sekali untuk blogging. Karena, menurut saya, kalau blog kita rapih dan update, lalu muncul di halaman pertama Google, peluang kita jadi seorang content writer makin besar. So, let’s talk about SEO.

Kalau ada yang gratisan, buat apa kita bayar? Kurang lebih begitulah prinsip SEO ini. SEO dan SEM adalah dua tools penting dalam membawa blog kita masuk ke halaman pertama Google Search. Bedanya, kalau SEM berbayar (alias kita bidding untuk keyword tertentu – kalau kita menang bidding ya ‘iklan’ kita muncul di halaman pertama), SEO ini gratis tapi perlu effort lebih. Buat saya, SEO ini semacam puzzle raksasa yang tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat.

“Optimisasi ada 2 macam, on page dan off page,” jelas Nico. “On Page berarti kita harus berpikir seperti Google” saat mengutak-atik blog sendiri, seperti membereskan meta tag, input keywords hingga format URL. Satu hal yang bolak-balik ditekankan Nico adalah speed website. “Rata-rata orang stay di satu website adalah 1-2 menit. Jadi kalau page kita terlalu lama loadingnya, bisa jadi bounce rate,” jelas Nico, yang lalu membuka satu website dan menunjukkan bahwa gambar sebesar 37kb saja sebenarnya sudah cukup untuk ilustrasi web. Gambar ukuran besar jelas memperlambat web. 

Lalu bagaimana kita tahu apa yang harus diperbaiki? Nico sharing beberapa tools untuk mengaudit blog sendiri. Salah satunya adalah seositecheckup.com yang bisa membagikan kecepatan web kita sekaligus apa yang harus diperhatikan dari SEO blog kita. Kalau tidak mau repot, Google juga sebenarnya punya pagespeed tools yang bisa kita lihat insightnya dan fitur submit URL untuk membuat blog kita semakin kredibel.

Moving on to off page optimization, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama adalah backlink. Tidak perlu pusing, “tukar-tukaran link sesama blogger juga bisa kok,” kata Nico. “Harus diperhatikan bahwa backlink kita tidak datang dari website miras atau judi. Sebaiknya juga jangan membeli backlink meskipun murah karena jika ketahuan, blog kita bisa kena suspend dan tidak muncul di Google sama sekali.”

Lalu rajin sharing di social media, dan jangan malas menggunakan shortlink seperti bit.ly saat sharing di Instagram yang tidak bisa langsung klik. Makin banyak yang berkunjung berarti semakin besar kesempatan blog kita muncul di halaman pertama. Yang terakhir agak mengejutkan. “Meskipun Google tidak pernah menyebut tentang perpanjangan domain, tapi Google memeriksa sudah berapa lama domain tersebut jadi milik kita,” cerita Nico. Jadi lebih disarankan untuk beli domain sekalian saja 2-3 tahun. Kita masih akan ngeblog juga kan.

Jadi, dengan skill sebagai blogger dan pengetahuan SEO ini, kita bisa jadi content writer handal, dan tidak mustahil juga merambah ke profesi berikutnya seperti social media strategist atau content creator.

Sounds good?