Kenangan Masa Lalu

By Ruth Ninajanty

Tidak semua masa lalu harus dilupakan. Beberapa menyimpan cerita lama yang menarik untuk didengar. Jika Anda kebetulan berada di kota-kota ini, sempatkan menengok masa lalu yang tersisa di sudutnya.

Merdeka Walk (Medan)

Jl. Balai Kota, Kesawan, Medan Barat

Medan Walk – courtesy of panduanwisata.id

Menikmati wisata kuliner malam hari sambil ditemani gedung-gedung bersejarah kota Medan hanya bisa dinikmati di Merdeka Walk. Terletak di salah satu sisi alun-alun kota Medan, tempat ini merupakan lapangan terbuka di pusat kota yang terkenal dengan pohon-pohon trembesi berusia ratusan tahun. Sejarah Lapangan Merdeka ini sendiri sudah ada sejak tahun 1872, ketika Kesultanan Deli dan pusat bisnis perkebunan pindah ke Kota Medan.

 

Hau’s Tea D’junction (Padang)

Jl. Kampung Nias V no 1, Padang

 Kulineran di Padang tentunya tidak boleh melewatkan mampir ke Hau’s Tea D’junction, tempat makan yang berdiri sejak tahun 1977 dengan teh Hau sebagai sajian khasnya. Makanan di menu restoran ini  memang lebih cenderung memanjakan selera barat, seperti pizza, pasta dan steak namun harganya masih terjangkau. Jangan lupa memesan camilan cakwenya yang terkenal.

 

Vanhollano (Pekanbaru)
Jl. Jendral Sudirman no 151 – 155, Pekanbaru

Toko roti pertama di Pekanbaru ini dimulai dengan sebuah ruko kecil yang dibeli pendirinya, Andrie Djaja, di Jl Jendral Sudirman. Saat ini, toko pertama Vanhollano yang bersejarah telah menjadi bakery yang dilengkapi dengan restoran keluarga di lantai 2 serta melayani berbagai pesanan pesta dari ulang tahun hingga pernikahan. Sempatkan mampir ke toko roti ini dan mencicipi roti manis (sweet bread) andalannya.

 

Latrasee Bistro (Pangkal Pinang)

 Jl. Jendral Sudirman, Opas Indah, Taman Sari, Kota Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung

Latrasee Bistro merupakan bagian dari pelestarian budaya daerah Pangkal Pinang yang bertujuan untuk meningkatkan pariwisata. Kata Latrasee sendiri merupakan ungkapan khas daerah Bangka yang artinya “sudah terasa.” Bangunan tempat bistro ini berdiri sudah ada sejak tahun 1860 sebagai bagian dari rumah yang dibangun oleh Lay Fung Tju dan saat ini dipelihara oleh generasi kelimanya. Rumah tersebut, yang saat ini telah dipugar dengan tetap mempertahankan keasliannya, merupakan tempat pertemuan para pedagang dan pemerintah di zaman kolonial Belanda.

 

Masjid Cheng Ho (Palembang)

5 Ulu, Seberang Ulu I, Palembang, Sumatra Selatan

Masjid Cheng Ho – courtesy of validnews.co

Siapa tidak kenal Laksamana Cheng Ho? Masjid di Jakabaring Palembang ini didirikan pada tahun 2003 dengan menggabungkan nuansa local Palembang, Arab dan Tionghoa. Laksamana Cheng Ho sendiri pernah beberapa kali merapat ke Palembang, salah satunya menumpas perompak di daerah perairan Sungai Musi. Masjid yang didominasi warna merah dan hijau ini kemudian didedikasikan untuk sang pahlawan.

 

Farm House (Bandung)

Jl. Raya Lembang No.108, Gudangkahuripan, Lembang,
Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat 

Tempat wisata ini selalu padat di akhir pekan sejak pertama kali dibuka tahun 2015. Memberikan nuansa peternakan dan perkebunan Eropa kuno, Farm House Lembang populer dengan rumah Hobbit dan background fotogenik yang instagramable. Tukarkan tiket masuk Anda dengan segelas susu murni dan sosis bakar, lalu nikmati udara segar berkeliling desa di Eropa tanpa harus naik pesawat terbang.

 

North Quay (Surabaya)

Terminal Gapura Surya Nusantara, Lantai 3

Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya

Temukan matahari terbenam di antara kapal yang lalu lalang di beranda Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Tanjung Perak merupakan pintu gerbang ke Indonesia timur yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1910. Di North Quay, pengunjung dapat melihat aktivitas kapal merapat dan berlayar serta patung Jalesveva Jayamahe dan jembatan Suramadu di kejauhan. Tujuan wisata baru di Surabaya ini sangat populer di akhir pekan karena terasa lebih romantis dengan adanya live music yang mengiringi makan malam.

 

Dream Museum Zone (Bali)

Jl. Nakula No.33X, Legian, Kuta, Kabupaten Badung, Bali 

3D Trick Art yang saat ini populer di Indonesia membuat museum yang satu ini ikut digemari di Bali. Dream Museum Zone (DMZ) adalah galeri interaktif dengan 120 koleksi 3D mural yang unik dan bervariasi, terbagi dalam 14 kategori berbeda di sebuah gedung 3 lantai di Legian. Kolaborasi seniman local dan Korea Selatan ini menghadirkan bukan hanya gambar modern tetapi juga sejarah dan budaya dari seluruh penjuru dunia. Pengunjung dapat “berkunjung” ke Candi Prambanan atau kembali ke jaman Renaissancne.

 

Trans Studio Makassar

 Jl. HM. Daeng Patompo, Metro, Tanjung Bunga, Kota Makassar, Sulawesi Selatan

Salah satu indoor theme park terbesar di dunia menjadi bagian dari Kota Makassar di tahun 2009. Trans Studio Makassar memiliki 22 atraksi yang diadaptasi dari serial TV lokal dan atraksi internasional seperti Universal Studios dan Six Flags di atas lahan sebesar 2,7 hektar. Selain bermain, pengunjung juga dapat mencoba menjadi selebriti di depan kamera dan orang-orang di balik layar produksi sebuah acara.

 

Pasar Semawis (Semarang)

Jl. Gang Warung No. 50, Kauman, Semarang

Sudah menjadi tradisi untuk menyusuri Pecinan Semarang di malam akhir pekan, untuk sekedar mencicipi aneka jajanan atau mendengarkan lagu lawas dari para lansia yang bernyanyi di salah satu tenda. Berawal dari pasar Imlek yang diadakan tahun 2004, pasar malam yang terletak di Gang Warung ini kemudian menjadi wisata kuliner khas Semarang dengan adanya beragam panganan mulai dari Pisang Plenet, Nasi Ayam, Kue Surabi hingga sate dan hidangan khas Jawa Tengah lainnya.

 

Monumen Kapal Selam (Surabaya)

Jl. Pemuda No.39, Embong Kaliasin, Genteng, Surabaya

Kapal Selam yang bernama KRI Pasopati 410 ini adalah peninggalan sejarah pembebasan Irian Barat yang kemudian beralih fungsi mejadi museum. Terletak di pusat kota Surabaya, tepatnya di Embong Kaliasin, Genteng, Monumen Kapal Selam atau yang lebih dikenal dengan Monkasel ini juga dilengkapi dengan pemutaran film pertempuran di Laut Aru dan populer sebagai tujuan wisata bagi para pelajar.

 

Dusun Sade (Lombok)

Desa Rambitan, Kecamatan Puju, Kabupaten Lombok Tengah

Dusun Sade – courtesy of lucianancy.files.wordpress.com

Di tengah peradaban yang semakin modern, Dusun Sade di Desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah masih mempertahankan adat suku Sasak. Dusun ini kemudian dijadikan Desa Wisata oleh pemerintah setempat. Meskipun sudah menggunakan listrik dan beberapa peralatan modern lainnya, penduduk dusun masih tinggal di rumah bambu, beralas tanah dan beratap ijuk yang dibangun tanpa menggunakan paku. Bahkan kebiasaan membersihkan lantai dengan kotoran kerbau pun masih dijalankan oleh warga desa.

Originally published in Majalah Mutiara Biru (Oktober 2017)