Inne Noor Jalankan Bisnis Furnitur Berbekal Ilmu Konsultan

By: Eddy Dwinanto Iskandar

Artikel ini diambil dari swa.co.id

Pengalaman sebagai konsultan ternyata bisa menjadi bekal penting untuk terjun sebagai pengusaha. Ini dialami Inne Noor, seorang konsultan keuangan dan bisnis yang beralih menjadi pengusaha furnitur 13 tahun silam. Bekal keahlian analisis bisnis, proyeksi keuangan, sampai manajemen operasional diaplikasikan ketika Inne dan rekannya mengakuisisi perusahaan furnitur PT Rapi Cipta Indah pada 2004.

Sejak itu, perusahaan furnitur yang memiliki pabrik seluas 1,9 hektare di Cileungsi, Jawa Barat, itu pun melaju kencang. Terlebih, setelah Inne dan tim mereposisi bisnisnya dari produsen furnitur massal berbahan particle board menjadi berbahan HPL yang memiliki tampilan dan kekuatan lebih baik. Berbagai mebel kayu seperti meja kerja, kabinet, kitchen set, dan coffee table mereka produksi untuk klien menengah-atas yang kebanyakan terdiri dari hotel, apartemen, perkantoran, dan rumah mewah. “Saya fokus di fix furniture, jenis furnitur yang jarang atau sulit dipindah-pindahkan. Loose furniture atau yang sering dipindah seperti kursi, meja ringan, sofa juga bisa saya produksi, tapi tidak fokus di sana,” tutur Inne yang memegang gelar sarjana keuangan dari Bentley University, Massachussets, AS.

Sebelum menjadi pengusaha, Inne kenyang berkarier sebagai konsultan di berbagai perusahaan dan firma konsultansi kakap seperti Deloitte Consulting dan Renaissance Capital, serta sebagai direktur di salah satu anak usaha Grup Toba milik Menko Kemaritiman RI Luhut Binsar Pandjaitan. Inne mengaku, ia terjun ke sektor riil karena ingin menjajal bidang baru sebagai pengusaha. Dan, ia memilih bisnis furnitur lantaran dirinya sejak dulu menyukai bidang seni seperti desain interior, lukisan, patung, sampai pertunjukan opera. “Ditambah, saya punya jaringan yang memang membutuhkan furnitur custom,” tutur Inne kepada SWA di kantornya, Menara Imperium Lantai 18, Jl. H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

Benar saja. Tak lama setelah ia merombak permesinan dan manajemen perusahaan, seorang teman yang membangun apartemen mengontaknya. Dari situ, wanita kelahiran Jakarta, 20 Agustus 1975, ini berhasil meraih kontrak mengisi ratusan unit kamar dan ruang publik di dalam apartemen tersebut.

Inne mengakui, memang ada proses belajar yang dialaminya. Meski demikian, ia bersyukur, dengan persiapan dan analisis bisnis yang tepat serta karyawan loyal yang berkeahlian tinggi, proses tersebut dapat dipersingkat. “Ilmu konsultan benar-benar saya terapkan dalam merintis bisnis ini. Jadi, semua berdasar perencanaan yang kuat dan survei lapangan yang mendetail. Saya pun terjun langsung mengawasi proses produksi sampai pengecekan hasil pemasangannya di properti klien,” paparnya.

Menurut Inne, pendorong utama kelancaran bisnisnya adalah perombakan mesin dan manajemen yang dilakukan sejak awal akuisisi. Pergantian mesin merupakan bagian dari investasi awal sebesar Rp 10 miliar yang mereka benamkan di perusahaan barunya. Dengan modal ini, mereka juga membeli mesin potong, pressing, dan pembuatan sudut (edging) dari Jerman dan Italia yang kebetulan diageni temannya yang lain.

Mesin dari Eropa, imbuh Inne, memang lebih mahal daripada negara lain, tetapi hasil akhir produk yang berkualitas tinggi sepadan dengan harganya. Daya tahannnya juga sangat mumpuni. Plus, karyawan perusahaannya diberi bekal pelatihan penggunaan mesin secara detail. “Jadi, benar-benar sebanding harga dengan hasil yang diperoleh,” kata wanita yang menjabat sebagai Ketua DPW DKI Jakarta Perhimpunan Perempuan Lintas-Profesi Seluruh Indonesia ini.

Dengan modal kualitas mumpuni dan jaringan yang luas, pengurus Kadin urusan Timur Tengah ini pun mudah meraih berbagai proyek. Inne sukses mengisi furnitur di berbagai properti hotel bintang tiga sampai lima, apartemen, rumah sakit, sekolah, dsb. Satu proyek bisa mendatangkan order sampai ribuan unit furnitur. Pasalnya, satu properti apartemen berisi ratusan unit kamar, dan bisa memesan lebih dari 5 item untuk setiap kamarnya. Meski agak sulit memperkirakan pasti, ia mengaku dalam tempo 3-4 bulan bisa menghasilkan furnitur untuk lima proyek apartemen atau hotel yang masing-masing berisi ratusan unit kamar.

Salah satu proyek besar yang pernah diraih Inne adalah Oakwood Apartment, properti menengah-atas yang berlokasi di kompleks perkantoran elite Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Di sana, ia mengisi 218 unit apartemen dan berbagai furnitur di ruang terbukanya. Selain itu, terdapat proyek lain seperti apartemen di Menteng, Hotel Amaris Madiun, dan Swiss Belhotel Yogyakarta.

Inne, yang kini memiliki 70 karyawan tetap dan puluhan karyawan lepas, semakin mantap menggeluti bisnis furnitur. Bahkan, ia berencana merilis lini ritel yang menyasar pasar menengah-atas. Ini merupakan salah satu strategi menghadapi pelemahan serapan di segmen proyek, seiring dengan terjadinya perlambatan ekonomi. Strategi lain yang akan ditempuh adalah merambah pasar Timur Tengah. “Permintaan dari Timur Tengah sudah ada. Tinggal bekerjasama dengan partner lokal yang memahami urusan bisnis di sana,” ujarnya.

Selain bisnis furnitur, Inne ternyata berencana pula terjun ke bisnis perdagangan hasil laut. Bukti keseriusannya, ia telah menyambangi basis pengolahan ikan milik calon mitranya di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Di sana, ia mengamati langsung 40 kapal ikan milik calon mitranya berikut fasilitas penyimpanan hasil laut berpendingin.

“Dalam berbisnis ini, saya benar-benar menerapkan prinsip konsultan manajemen, yakni mengecek dan mengamati langsung detail bisnis sampai ke lapangan. Ditambah lagi, saya harus memastikan permintaan pasar. Dengan demikian, saya dapat meminimalisasi risiko,” ungkap Inne yang mengaku sudah mendapat permintaan hasil laut dari Timur Tengah.