Gangsta Bar

Words: Andre Syahreza

Originally published in Life in Jakarta, April edition.

Sebuah restoran di bagian depan, dan speakeasy bar yang tersembunyi di bagian belakang. Menyediakan hidangan yang “cocok untuk gangster”.

‘Speakeasy Bar’ dikenal sebagai sebuah istilah untuk bar yang terinspirasi dari Prohibition Era di Amerika Serikat, sekitar tahun 1930-an. Ketika itu produksi dan peredaran minuman beralkohol dilarang, menyebabkan bermunculan bar-bar yang dibikin sembunyi-sembunyi. Ketika itu Speakeasy Bar identik dengan kalangan atas, para sosialita dan juga gangster yang mengatur peredaran minuman-minuman ilegal ke sejumlah Speakeasy Bar.

Di Jakarta, Speakeasy Bar sebagai sebuah konsep yang vintage baru masuk sekitar 3 tahun terakhir. Semua membawa nostalgia dari masa 30-an di USA, mengetengahkan classic cocktail dan suasana tersembunyi. Di antara Speakeasy Bar yang berjumlah segelintir, The Prohibition adalah yang paling fasih menerjemahkan konsep bar terlarang ala gangster. Di sini, apapun yang berbau gangster dirayakan dalam konteks elit, bercita rasa tinggi, dan berani bayar mahal.

_MG_0012

Photo by Firman Maksum

Awalnya agak sulit membayangkan konsep Speakeasy Bar diimplementasikan di Plaza Senayan Arcadia. Hampir tidak ada aspek yang bisa disembunyikan dalam sebuah restaurant arcade. Memasuki bagian depannya, The Prohibition memamerkan suasana restoran mewah khas Chicago. Tidak ada yang tersembunyi di bagian ini. Huruf-huruf yang merangkai kata THE PROHIBITION menghias bagian bar dan membuat restoran ini begitu gamblang merayakan sejarah kelam Era Prohibition yang manis.

Dari lorong samping restoran ini, tamu bisa masuk lewat pintu spesial yang hanya bisa dibuka dengan kode khusus pada kotak digital. Di sini kesan Speakeasy Bar mulai semakin terasa. Di balik pintu itu, lorong-lorong dalam cahaya temaram menggiring pengunjung memasuki bagian bar. Hampir tidak terduga ada bar tersembunyi di balik kemeriahan restoran di bagian depannya. Di bagian bar ini, terdapat sofa-sofa elegan yang setiap bagian bisa menampung 8 hingga 10 orang, sebuah panggung kecil, dan dance floor di bagian depan panggung.

_MG_9901

Photo by Firman Maksum

Di dalam ruang bar yang cukup luas ini pula tersembunyi kamar-kamar khusus untuk menyanyi karaoke, yang mampu menampung 10 hingga 15 orang lebih. Di dalam ruangan ini terpajang copy foto-foto hitam-putih dari Era Prohibition dan foto-foto mafia legendaris dari masa itu. Dekor kayu mendominasi ruangan, dilengkapi ornamen yang berasosiasi dengan pesan Speakeasy Bar yang orisinil, membuat kita seolah membayangkan Al Capone mungkin sudah menyetujui tempat ini.

Dari salah satu ruangan ini, pengunjung VIP dapat tembus langsung ke lift khusus yang terhubung dengan lantai parkir. Melalui lift ini pula para tamu VIP tidak perlu masuk dari bagian depan Plaza Senayan Arcadia, melainkan masuk langsung dari parkiran menuju bagian tersembunyi The Prohibition. Hingga kini telah ada puluhan nama yang tercatat sebagai member VIP Speakeasy Bar ini. Layaknya bos mafia, mereka diperlakukan khusus dan berhak menerima penawaran spesial untuk setiap minuman dan hidangan.

Sebagai Chophouse Restaurant, The Prohibition menyediakan menu chophouse seperti Chophouse Baby Back Pork Ribs selain menu khas Gangster Meat Platter yang menyajikan pilihan Tenderloin, Sirloin, Rib Eye atau Lamb Cutlet. Semua tersaji dalam presentasi dan kualitas rasa terbaik di kelasnya.

Classic Cocktail menjadi signature di setiap Speakeasy Bar, begitu juga di The Prohibition. Bedanya, di sini secara kreatif dihidangkan dalam presentasi yang relavan dengan sejarah dari masa Prohibition. Di antaranya adalah cocktail yang disuguhkan dalam wadah berbentuk bathtub kecil berwarna emas, yang dilatari oleh sejarah masa itu di mana banyak produsen minuman ilegal meramu minumannya di dalam bathtub. Itulah kenapa minuman mereka disebut “Bathtub Gin”.

Dengan slogan “serving food fit for gangster”, tentu The Prohibition tidak betul-betul bermaksud mengundang para mafia. Tapi, di sela-sela selebriti, sosialita, dan politisi Senayan yang sering mampir ke sana, siapa tahu ada juga satu-dua gangster yang diam-diam hadir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *