Edit Tulisan Anda

Oleh: Gandi Faisal

Hari ini, semua orang menulis. Yang dibutuhkan adalah sepuluh jari, atau cukup dua ibu jari, pemahaman mengenai tata bahasa (ala kadarnya saja), dan secuil informasi yang menurut mereka pantas diabadikan dan seluruh dunia wajib ketahui. Tapi apakah dengan menulis menjadikan seseorang penulis? Tentu tidak. Menulis adalah seni yang dipelajari dan dipraktikkan. Dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mencapai tingkat kemampuan yang dapat membuat kita pantas disebut sebagai penulis. Bahkan saat sebagian orang menganggap kita sudah dapat menulis dengan baik, sebagian yang lain akan melihat tulisan kita dan menggelengkan kepala. Mereka membaca apa yang kita tulis dengan ekspektasi tidak hanya memahami pesan yang ingin kita sampaikan; mereka ingin melihat tulisan yang menarik, mudah dipahami karena menggunakan tata bahasa yang baik, dan mendapatkan pengalaman yang memperkaya diri mereka.

Penulis memiliki editor—dan ini adalah satu keuntungan. Tentu, ada kalanya penulis dan editor terlibat dalam perdebatan sengit mengenai apa yang pantas ada di dalam tulisan. Keduanya memiliki argumennya sendiri, namun biasanya, editor memenangkan perdebatan, atau setidaknya penulis dan editor mencapai kata sepakat dalam menentukan apa yang perlu diubah, dan apa yang harus disingkirkan dari atau ditambahkan ke dalam naskah.

Penulis yang baik akan selalu mengembangkan keahlian menulisnya, termasuk kemampuannya untuk mengedit sendiri materi yang telah ditulis. Semakin sering penulis mengasah kemampuan mengedit tulisannya sendiri, semakin dia mengetahui apa yang terbaik yang harus dia masukkan ke dalam tulisan, dan ini akan membuatnya menjadi penulis yang lebih baik (dan meringankan pekerjaan editor). Berikut adalah beberapa tips yang dapat membantu Anda mengedit tulisan Anda sendiri.

Berhenti Menulis dan Kerjakan Hal Lain

Penulis yang bekerja tanpa dikejar tenggat waktu pantas melakukan hal ini. Dengan menjauhkan diri dari materi yang sedang kita kerjakan, kita membuat jarak emosional antara kita dengan buah karya kita. Ini diperlukan karena disadari atau tidak, saat kita menulis, kita juga menyuntikkan ego kita ke dalam tulisan. Akibatnya, saat tulisan kita dikomentari, bahkan dipertanyakan, oleh editor kita akan bersikap defensif. Stephen King dalam bukunya On Writing juga mengingatkan perlunya melakukan ini. Dalam proses menulis novelnya, beliau bahkan sering kali berhenti di tengah-tengah penulisan, dan mulai menulis novel lain!

Cetak naskah dan Tinggalkan

Ini berhubungan langsung dengan tips pertama. Melakukan hal ini memang merepotkan. Tapi hal ini juga perlu dilakukan. Stephen King, juga dalam On Writing, menulis bahwa dia melakukan hal ini. Naskah yang telah selesai diketik akan dia simpan di dalam kotak sepatu, dan dia melakukan tips pertama: Membuat jarak dengan naskah itu dengan mengisi waktunya dengan menulis buku lain. Terkadang satu naskah dapat tersimpan di dalam kotak sepatu di dasar lemarinya hingga berbulan-bulan. Saat dia mengambilnya dari kotak sepatu dan membacanya kembali, dia akan membacanya dengan kaca mata seorang pembaca, bukan penulis naskah itu. Dia akan menemukan hal-hal yang menurutnya pantas diubah. Kita pun dapat menirunya.

Karena kita tidak sedang menyusun novel dan tentunya tak punya waktu berbulan-bulan, beberapa hari atau jam juga cukup: Print naskah yang telah Anda selesaikan; lakukan sesuatu, misalnya pergi keluar rumah untuk berbelanja atau bertemu teman, menonton film, atau membaca buku. Saat Anda ambil kembali naskah yang telah Anda ketik di komputer dan kini ada tercetak di lembaran kertas (dalam format berbeda dengan saat Anda mengetik naskah tersebut), Anda akan melihat hal-hal yang dapat Anda ubah karena Anda kini memiliki jarak dengan tulisan yang ada di tangan Anda.

Membaca Tulisan dengan Suara Lantang sekaligus Berperan Sebagai Pendengar

Tulisan yang baik mengalir dengan baik saat dibaca. Satu cara untuk memastikan apakah tulisan mengalir dengan baik adalah dengan membacanya dengan suara lantang. Artinya, kita mendengar tulisan itu dibacakan. Apakah tulisan kita menggunakan bahasa yang mudah dicerna sehingga tak akan membuat pembaca/pendengar mengantuk? Itulah yang kita inginkan.

Jangan Sungkan

Saatnya Anda mengedit tulisan Anda. Jangan sungkan saat Anda melakukannya. Baca kembali kalimat yang tercetak. Pertimbangkan kembali kata dan frasa yang Anda pilih. Analisis tanda-tanda baca yang Anda gunakan. Coret, lingkari, ubah. Pastikan pada akhirnya Anda mendapatkan tulisan yang menyampaikan pesan yang ingin Anda sampaikan secara efektif dan jelas, dan mudah dibaca.

Pastikan Anda tidak menulis paragraf yang terlalu panjang. Beberapa kalimat seharusnya cukup menyampaikan sebuah ide utama dan menjelaskannya dengan beberapa kalimat pendukung.

Tandai kata sifat dan kata keterangan di tulisan Anda. Pertimbangkan kembali apakah mereka memang benar-benar diperlukan. Pastikan apakah tidak lebih jika Anda menggantikan mereka dengan kata kerja yang lebih efektif.

Yang terakhir dan tidak kalah penting, yakinlah dengan apa yang Anda tulis. Sewaktu saya masih mengajar, saya selalu mengingatkan para siswa untuk percaya diri dengan apa yang mereka tulis dan percaya diri saat mereka harus mempresentasikan apa yang mereka tulis. Bahkan apabila mereka sebetulnya tidak yakin dengan beberapa poin yang mereka kemukakan, mereka harus dapat menyembunyikan ketidakyakinan itu. Hindari menulis kata atau frasa seperti ini: ‘Menurut saya,…’, ‘Sepertinya,…’, ‘Mungkin saja…’ Tunjukkan keyakinan Anda, bahkan di saat Anda sendiri tidak sepenuhnya yakin.

Mengedit tulisan sendiri akan terasa merepotkan, bahkan menyiksa karena kita harus ‘merusak’ buah karya kita sendiri. Tapi Anda perlu meyakinkan diri Anda bahwa tulisan Anda adalah Anda. Bayangkan bahwa saat orang-orang membaca apa yang Anda tulis, mereka melihat Anda. Tentunya, Anda ingin menampilkan sisi terbaik Anda, dan itu dapat dilakukan dengan memastikan Anda tampak baik, dan tidak berlebihan.